Pendekatan Memahami Fiqih

Posted on Updated on


1. Etimologi Fiqih

Dalam kamus al-Mu’jam al-Wasith disebutkan kata “Faqiha-Faqhan-Fiqhan” berarti memahami. Bentuk isim fa’ilnya adalah “Faqihuun” yang artinya orang memahami. Sedangkan apabila devirasinya berasal dari kata Fuqaha, maka bentuk isimnya adalah “Faqihun” yang berarti ahli fiqih. Adapun Kata al-Fiqh (bentuk mashdar) maknyanya adalah pemahaman atau kecerdasan. Kata ini juga berarti diartikan dengan ilmu, tepatnya ilmu-ilmu syari’at dan ushuluddin. Demikianlah makna etimologi fiqih.1

2. Terminologi Fiqih

Adapun makna fiqih secara terminologis telah didefinisikan oleh para ahli fiqih sendiri, yaitu :

Fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali dari dalil-dalilnya yang rinci.”

Ilmu fiqih adalah anugerah terindah dan karunia yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, setelah nikmat islam tentunya. Dengan fiqih, seseorang dapat memahami hukum-hukum Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, serta membimbing orang lain agar mentaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

3. Sejarah Ilmu Fiqih

Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, para sejarahwan sering membaginya dalam dua periode kenabian yakni periode Mekkah dan periode Madinah. Pada periode pertama risalah kenabian berisi ajaran-ajaran akidah dan akhlaq, sedangkan pada periode kedua risalah kenabian lebih banyak berisi hukum-hukum. Pada periode kenabian kedua, hukum-hukum itu berupa masalah sosial kemasyarakatan, seperti pemberlakuan zakat, sedekah, hukum pernikahan, ekonomi, politik dan budaya.2 Maka dari itu, dalam  mengambil keputusan masalah amaliyah para sahabat tidak perlu melakukan ijtihad sendiri, karena mereka dapat langsung bertanya kepada Nabi jika mereka mendapati suatu masalah yang belum mereka ketahui.

Sampai dengan masa empat khalifah hukum-hukum syariah itu belum dibukukan, dan belum juga diformulasikan sebagai sebuah ilmu yang sistematis. Kemudian pada masa-masa awal periode tabi’in (masa Dinasti Umayah) muncul aliran-aliran dalam memahami hukum-hukum syariah serta dalam merespons persoalan-persoalan baru yang muncul sebagai akibat semakin luasnya wilayah Islam, yakni ahlu al-hadits dan ahlu al-ra’yi. Aliran pertama, yang berpusat di Hijaz (Mekkah-Madinah), banyak menggunakan hadis dan pendapat-pendapat sahabat, serta memahaminya secara harfiah. Sedangkan aliran kedua, yang berpusat di Irak, banyak menggunakan rasio dalam merespons persoalan baru yang muncul.

Di antara ahli fatwa dari kalangan tabi’in adalah Sa’id ibn Musayyab (13-94 H), Ibrahim al-Nakha’i (46-96 H), Hasan al-Bashri (w. 111 H), dan sebagainya. Namun demikian, pada periode ini juga belum dilakukan pembukuan hukum-hukum Syariah, dan belum pula diformulasikan dalam bentuk ilmu fiqih. Demikian pula, metode ijtihad ini belum diformulasikan dalam bentuk ilmu ushul fiqih dan qawa’id fiqihiyyah. Ilmu-ilmu agama Islam memang baru muncul pada masa-masa awal dari Dinasti Abbasiyah (133-766 H atau 750-1258), setelah kaum Muslimin dapat menciptakan stabilitas keamanan di seluruh wilayah Islam.

Pada waktu kaum Muslimin berada pada tingkat kehidupannya yang  semakin baik, tidak lagi berkonsentrasi untuk memperluas wilayahnya, melainkan berupaya untuk membangun suatu peradaban melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Maka muncullah berbagai kegiatan dalam kaitan dengan kebangkitan ilmu pengetahuan ini, yang terdiri dari tiga bentuk, yakni penyusunan buku-buku, perumusan ilmu-ilmu Islam, dan penterjemahan manuskrip dan buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan yang berkembang di lingkungan masyarakat islam, diantaranya ilmu fiqih dan ilmu kalam, tetapi pada saat bersamaan muncul ahli-ahli ilmu yang juga dikenal seperti ahli logika, bahasa, ilmu alam, astronomi dan juga filsafat.3

Pada periode inilah ilmu fiqih berkembang. Ilmu fiqih secara konvensional terdiri dari: fiqih ibadat -fiqih tentang persoalan-persoalan ibadah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji-, fiqih munakahat -fiqih tentang perkawinan dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti waris dan hibah-, fiqih mu’amalat -fiqih tentang hubungan perdata- dan fiqih jinayat -fiqih tentang tindak pidana dan hukumannya-. Pembahasan jenis-jenis fiqih terintegrasi menjadi satu kesatuan.

Namun ada satu aspek dari fiqih yang sering dibahas secara terpisah, yakni fiqih siyasah atau disebut juga ilmu siyasah syar’iyyah. Fiqih ini membahas tentang politik dan ketatanegaraan menurut Islam,4 yang meliputi aspek politik, ekonomi dan hubungan antar golongan/negara. Akan tetapi aspek politik merupakan perhatian utama dalm fiqih siyasah ini, sehingga saat ini banyak yang menggunakan istilah, pemikiran politik Islam (al-fikr al-siyasa al-Islama, Islamic political thought), ilmu pemerintahan Islam (al-hukumah al-Islamiyyah, Islamic government), dan lain-lain.

Ilmu fiqih baru muncul pada periode tabi’ al-tabi’in abad kedua Hijriyah, dengan munculnya para mujtahid di berbagai kota, serta terbukanya pembahasan dan perdebatan tentang hukum-hukum syariah. Pada masa-masa itulah di Irak muncul seorang mujtahid besar bernama Abu Hanifah al-Nu’man ibn Tsabit (80-150 H / 700-767 M) yang merupakan orang pertama yang memformulasikan ilmu fiqih, tetapi ilmu ini belum dibukukan. Sementara itu, di Madinah muncul juga seorang mujtahid besar bernama Malik ibn Anas (93-178 H / 713-795 M) yang memformulasikan ilmu fiqih dan membukukan kumpulan hadis berjudul al-Muwaththa’, yang terutama berisi hukum-hukum syariah. Pembukuan kitab ini dilakukan atas permintaan khalifah Abu Ja’far al-Manshur (137-159 H / 754-775 M), dengan maksud sebagai pedoman bagi kaum Muslimin dalam mengarungi kehidupan mereka.

Khalifah Harun al-Rasyid (170-194 H / 786-809 M) pernah berusaha untuk menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum yang berlaku untuk umum, tetapi usaha ini tidak disetujui oleh Malik ibn Anas. Kitab ini kemudian menjadi dasar bagi paham fiqih di kalangan umat Islam di Hijaz (aliran ahl-hadits). Sedangkan yang menjadi pedoman bagi paham fiqih di kalangan umat Islam di Irak (aliran ahl al-ra’yi) adalah buku-buku yang ditulis oleh murid-murid Abu Hanifah, terutama Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani (102-189 H) dengan bukunya antara lain al-Jami’ al-Kabir dan al-Jami’ al-Shaghir dan juga Abu Yusuf (112-183 H) dengan bukunya berjudul Kitab al-Kharaj (Kitab tentang Pajak Penghasilan). Abu Hanifah sendiri pernah diminta menjadi qadhi (hakim), tetapi permintaan ini ditolak. Karena hal ini, ia pernah didera siksaan fisik oleh pemerintah Bani Umayyah. Karena idealismenya, dalam hal ini Abu Hanifah tetap memilih untuk menjadi pemikir.5 Baik Abu Hanifah maupun Malik ibn Anas kemudian oleh para pengikutnya masing-masing dijadikan sebagai pendiri mazhab Hanafi dan Maliki.

4. Ilmu Fiqih

a. Fiqih Kontemporer

Memasuki era modern, fiqih dalam Islam mengalami penurunan dalam penggunaan oleh masyarakat. Fiqih yang sebenarnya mencakup segala hal dalam kehidupan manusia, mengalami degradasi dalam cakupan pengertiannya terutama dalam masyarakat awam yang memahami fiqh hanya mengatur tata cara beribadah secara ritual. Pemerintah di berbagai negara mulai menerapkan apa yang disebut sekulerisme yang memisahkan kehidupan agama dari kehidupan politik dan sosial. Fiqih yang tadinya dipakai sebagai dasar negara dalam mengambil keputusan mulai dipisahkan dari kehidupan kenegaraan karena dianggap tidak dapat menjawab segala masalah yang muncul di era modern. Bahkan sebagian orang berpikir bahwa agama menghambat kemajuan. Hal ini dikarenakan para ulama tidak berani berijtihad dalam mengambil keputusan hukum tentang suatu topik dan masalah aktual-kontemporer yang relevan dengan kehidupan kini.

Pada akhir abad ke 20, beberapa negara berkembang mulai memeriksa kembali struktur hukum mereka dan memantau dari segi Al Qur’an dan hukum tradisional Islam yang ternyata terbukti lebih baik dari sistem imperialisme yang diterapkan negara-negara barat.

Masyarakat Islam dituntut untuk mengikuti perubahan sosial dan sejarah dalam dunia modern. Masalah fiqih kontemporer ini mencakup hal-hal yang terjadi akibat perkembangan zaman dan teknologi. Contohnya dalam hal telepon dan fungsinya apakah dapat digunakan sebagai lebih dari sekedar alat komunikasi, juga permasalahan dalam kedokteran modern, apa saja pandangan Islam terhadap sistem-sistem pemerintahan yang muncul di era modern, dan lain sebagainya.

Tentu saja semua itu memerlukan jawaban yang ditopang dalil-dalil yang kuat, argumentatif, dan komparatif. Maka muncullah pemikir-pemikir besar di kalangan ulama Islam terutama yang berusaha mencari jawaban atas segi fiqih suatu permasalahan yang muncul akibat perkembangan zaman. Salah satunya adalah Dr. Yusuf Qardhawi dari Mesir, beliau mengeluarkan fatwa-fatwa tentang permasalahan yang dihadapi atau dialami umat Islam. Yang mencoba mengembalikan fungsi Islam sebenarnya yaitu bukan sebagai agama saja tetapi juga sebagai cara hidup manusia secara keseluruhan.

b. Fiqih Sosial

Fiqih Sosial muncul setelah ide-ide pembaruan Fiqih di Indonesia bermunculan. Kita mengenal ide Fiqih Indonesia yang dipopulerkan oleh Hasby Assidiqie tahun 1960an (bahkan benihnya sudah muncul sejak 1940an). Ide itu ditindaklanjuti dengan ide Fiqih Madzhab Nasional (Madzhab Indonesia) oleh Hazairin pada tahun 1960an juga. Kemudian KH. Abdurrahman Wahid pada 1975 menawarkan ide Hukum Islam sebagai Penunjang Pembangunan. Pada 1980an, Munawir Sjadzali mengusulkan ide Reaktualisasi Ajaran Islam. Disusul dengan ide Agama Keadilan oleh Masdar F. Mas’udi pada 1990an. Kemudian pada 1991 muncul Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dianggap ijmak Ulama Indonesia, yang diinstruksikan oleh Presiden Soeharto. Baru kemudian muncul ide Fiqih Sosial pada 1994 oleh KH. Sahal Mahfudh dan KH. ‘Ali Yafie.

Keberadaan Fiqh Sosial memang belum terdefinisikan secara jelas. Pemakaian istilah fiqh sosial (al-fiqh al-ijtima’i) akan menjadi tepat apabila disandingkan dengan fiqh individu (al-fiqh al-infiradhi). Kedua istilah ini relative belum dikenal dalam tulisan fiqh klasik,6 walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa klasifikasi fiqh yang dibangun selama ini tetap mengapresiasikan dua sisi tersebut.

Jika al-fiqh al-infiradhi lebih menekankan pada aspek ajaran tentang hubungan individu dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia dalam bentuk personal (baina al-fardh waal-fardh), Maka fiqh sosial (al-fiqh ijtima’i) lebih menekankan kajiannya pada aspek ajaran tentang hubungan antarsesama manusia-individu dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan pendekatan bahasa ini fiqh sosial dapat dipahami sebagai fiqh yang berdimensi sosial atau fiqh yang dibangun atas dasar hubungan antarindividu atau kelompok didalam masyarakat.7

Paradigma fiqih sosial didasarkan atas keyakinan bahwa fiqih harus dibaca dalam konteks pemecahan dan pemenuhan tiga jenis kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan primer (dharuriyah), kebutuhan sekunder (hajjiyah), dan kebutuhan tersier (tahsiniyah). Fiqih sosial tidak sekedar sebagai alat untuk melihat setiap persoalan dari kaca mata hitam putih, sebagaimana cara pandang fiqih yang lazim kita temukan, tetapi fiqih sosial lebih menempatkan fiqih sebagai paradigma pemaknaan secara sosial. Oleh karena itu, yang dapat dikatakan sebagai fiqh sosial dari pembagian diatas ialah :

  • Fiqih Muamalah
  • Fiqih Jinayah
  • Fiqih Zakat
  • Fiqih Wanita
  • Fiqih Dakwah
  • Fiqih Munakahat

c. Fiqih Sunnah

Fiqih Sunnah mengupas masalah-masalah fiqih Islam berdasarkan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur`an, sunnah yang sahih, dan ijma’ ulama kaum muslimin. Fiqih Sunnah dianggap memberikan bentuk yang sebenarnya tentang fiqih Islam. Sehingga, dengan membacanya banyak kalangan optimistis akan sebuah pencerahan, umat Islam dapat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah serta melenyapkan pertikaian pendapat, fanatik mazhab, dan menghapus takhayul yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

Fiqih sunnah mengupas berbagai masalah mengenai fikih, seperti thaharah dengan berbagai macamnya, shalat wajib dan sunnah, zakat, puasa, jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, haji, masalah pernikahan, hikmah poligami, berbagai hal tentang perkawinan (wali dan kedudukannya, hak dan kewajiban suami-istri, nafkah, akad nikah, walimah, dan sebagainya), serta berbagai hal yang berkaitan dengan hukuman. Dan jilid terakhir mengupas mulai dari jihad, perang, jizyah, ghanimah, kafarat sumpah, hukum jual-beli, riba, pinjaman, gadai, mudharabah, utang, dan sebagainya.

5. Empat Mazhab

Ketika melaksanakan syariat Islam

Pedoman Quran hadis shahih

Supaya tafsir tak macam-macam

Ikuti imam yang dipilih

Banyak aliran seperti Syiah

Atau Suni punya empat imam

Suni disebut ahlus sunnah wal jamaah

Meski berbeda tak saling kecam

Saat melaksanakan masalah fikih

Hambali boleh gunakan hadis mursal

Asal tak bertentangan dengan shahih

Atau yang dipikir dengan akal

Imam Abu Hanifah orang yang hanif

Banyak pengikut di Asia Tengah

Ketika berpikir selalu positif

Itu yang dicatat dalam sejarah

Imam Maliki banyak pengikut

Di Afrika Tengah dan Utara

Ia tak punya sifat takut

Menyampaikan yang benar ketika bicara

Imam Syafe’i sangat istimewa

Usia tujuh tahun hafal Quran

Dalam kehidupan selalu bertakwa

Jadikan contoh saat berperan8

a. Mazhab Imam Hambali

Pendiri Mazhab Hambali adalah Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H. Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain : Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Menurut pengakuan putra sulungnya, beliau dapat menghafal 700.000 hadist di luar kepala dan beliau juga menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab Musnadnya.9

Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah :

  • Nash Al Qur-an atau nash hadits.
  • Fatwa sebagian Sahabat.
  • Pendapat sebagian Sahabat.
  • Hadits Mursal atau Hadits Doif.
  • Qiyas.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut :

  1. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al Atsram; dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahmad.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Syawahid Hadits.
  3. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.

Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan mazhab Hambali, diantaranya :

  1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al Maqdisi yang mengarang kitab Al Mughni.
  2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
  3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al Fataawa.
  4. Ibnul Qaiyim al Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.10

Awal perkembangannya, mazhab Hambali berkembang di Baghdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad XII mazhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi. Dan masa sekarang ini menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.

b. Mazhab Imam Hanafi

Abu Hanifah Al-Nu`man ibn Thabit al-Taymi (lahir di Kufah, Irak 80H/689 – wafat di Bagdad, 150H) adalah pendiri madzab Hanafi, dan sering disebut juga sebagai Imam Hanafi. Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari Kesucian (taharah), Sholat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik ibn Anas, Syafii, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya. 11

Mazhab Hanafi ialah salah satu mazhab fiqh dalam Islam Sunni. Mazhab yang didirikan oleh Imam Hanafi ini terkenal sebagai mazhab yang paling terbuka kepada idea modern. Mazhab ini diamalkan terutama sekali di kalangan orang Islam Sunni Mesir, Turki, anak-benua India, Tiongkok dan sebagian Afrika Barat, walaupun pelajar Islam seluruh dunia belajar dan melihat pendapatnya mengenai amalan Islam. Mazhab Hanafi merupakan mazhab terbesar dengan 30% pengikut. Kehadiran mazhab-mazhab ini mungkin tidak bisa dilihat sebagai perbedaan mutlak seperti dalam agama Kristen (Protestan dan Katolik) dan beberapa agama lain. Sebaliknya ini merupakan perbedaan melalui pendapat logika dan ide dalam memahami Islam. Perkara pokok seperti akidah atau tauhid masih sama dan tidak berubah.

c. Mazhab Imam Maliki

Maliki ialah mazhab fiqh yang tertua dalam Islam sunni. Mazhab Maliki diamalkan di Madinah, Utara Afrika dan sebahagian Afika Barat.12 Mahzab ini mempunyai bilangan pengikut kedua teramai yaitu lebih kurang 25% dari pada Muslim. Mazhab ini berbeza dari pada tiga mazhab yang lain kerana terdapat tambahan kepada sumbernya. Selain menggunakan Al Quran, hadis, ijma’ dan qiyas, Imam Maliki juga menggunakan amalan orang Islam Madinah pada zamannya itu sebagai sumber yang kelima. Mengikut Imam Malik, amalan orang Madinah dilihat sebagai sunnah hidup memandangkan Nabi Muhammad berhijrah, tinggal, dan wafat di Madinah, dan kebanyakan sahabat Nabi tinggal di Madinah. Kesannya, Hadist yang dikaji oleh mazhab ini terlihat lebih jelas dari pada mazhab yang lain. Mazhab ini berpegang pada :

  • al-Qur-an
  • Sunnah Rosululloh SAW yang dipandang sah
  • Ijma’ ahlul Madinah. Terkadang menolak hadits yang berlawanan atau yang tak diamalkan ulama Madinah
  • Qiyas
  • Istilah

d. Mazhab Imam Syafi’i

Mazhab Syafi’i dibangun oleh Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib. Beliau lahir di Guzah (Siria) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Mazhab yang pertama.

Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekkah. Beliau juga belajar kepada Sufyan bin ‘Unayyah. Imam Syafi’i sanggup hafal Al Qur-an pada usia sembilan tahun. Setelah beliau hafal Al Qur-an barulah mempelajari bahasa dan sya’ir, kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.

Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam, yaitu berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah Qaul Qadim; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak. Dan yang kedua ialah Qul Jadid; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir ketika pindah dari Irak.13

Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan Imam Mujtahidin yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah. Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya adalah  Al-Um.

Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

6. Perkembangan Fiqih

Terdapat perbedaan periodisasi fiqh di kalangan ulama fiqh kontemporer. Muhammad Khudari Bek (ahli fiqh dari Mesir) dalam bukunya, Tarikh Tasyri’ al-Islami (Sejarah Pembentukan Hukum Islam) membagi periodisasi fiqh menjadi enam periode. Periodisasi menurut az-Zarqa adalah sebagai berikut:

  1. Periode risalah. Periode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad SAW sampai wafatnya Nabi SAW (11 H./632 M.). Pada periode ini kekuasaan penentuan hukum sepenuhnya berada di tangan Rasulullah SAW. Sumber hukum ketika itu adalah Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Pengertian fiqh pada masa itu identik dengan syarat, karena penentuan hukum terhadap suatu masalah seluruhnya terpulang kepada Rasulullah SAW.
  2. Periode al-Khulafaur Rasyidun. Periode ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW sampai Mu’awiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun 41 H./661 M. Sumber fiqh pada periode ini, disamping Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, juga ditandai dengan munculnya berbagai ijtihad para sahabat. Ijtihad ini dilakukan ketika persoalan yang akan ditentukan hukumnya tidak dijumpai secara jelas dalam nash. Pada masa ini, khususnya setelah Umar bin al-Khattab menjadi khalifah (13 H./634 M.), ijtihad sudah merupakan upaya yang luas dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang muncul di tengah masyarakat. Persoalan hukum pada periode ini sudah semakin kompleks dengan semakin banyaknya pemeluk Islam dari berbagai etnis dengan budaya masing-masing.
  3. Periode awal pertumbuhan fiqh. Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H. Periode ketiga ini merupakan titik awal pertumbuhan fiqh sebagai salah satu disiplin ilmu dalam Islam. Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai daerah semenjak masa al-Khulafaur Rasyidun (terutama sejak Usman bin Affan menduduki jabatan Khalifah, 33 H./644 M.), munculnya berbagai fatwa dan ijtihad hukum yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat daerah tersebut.
  4. Periode Keemasan, Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan abad ke-4 H. Dalam periode sejarah peradaban Islam, periode ini termasuk dalam periode Kemajuan Islam Pertama (700-1000). Seperti periode sebelumnya, ciri khas yang menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan berkembang. Perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. Dinasti Abbasiyah (132 H./750 M.-656 H./1258 M.) yang naik ke panggung pemerintahan menggantikan Dinasti Umayyah yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat, sehingga perhatian para penguasa Abbasiyah terhadap berbagai bidang ilmu sangat besar. Para penguasa awal Dinasti Abbasiyah sangat mendorong para fuqaha untuk melakukan ijtihad dalam mencari formulasi fiqh guna menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks. Perhatian para penguasa Abbasiyah terhadap fiqh misalnya dapat dilihat ketika Khalifah Harun ar-Rasyid (memerintah 786-809) meminta Imam Malik untuk mengajar kedua anaknya, al-Amin dan al-Ma’mun. Disamping itu, Khalifah Harun ar-Rasyid juga meminta kepada Imam Abu Yusuf untuk menyusun buku yang mengatur masalah administrasi, keuangan, ketatanegaraan dan pertanahan. Imam Abu Yusuf memenuhi permintaan khalifah ini dengan menyusun buku yang berjudul al-Kharaj.
  5. Periode Tahrir, takhrij dan tarjih dalam mazhab fiqh. Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Yang dimaksudkan dengan tahrir, takhrij, dan tarjih adalah upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing-masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri, muncullah sikap at-ta’assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab) sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab imamnya. Mustafa Ahmad az-Zarqa mengatakan bahwa dalam periode ini untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

____________________________________________________________________________________

  1. DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam  Al-Indunisi. “Ensikloedia Imam Sfafi’i” Jakarta : Penerbit Hikmah (PT Mizan Republika), 2008, hal.378
  2. Prof.dr.phil.H.M Nur Kholis Setiawan & Djaka Soetapa. “Meniti Kalam Kerukunan.” BPK Gunung Mulia, 2010, hal 222
  3. Ali Munhanif. “Mutiara terpendam: perempuan dalam literatur Islam klasik.” Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal xi
  4. Tim Darul Ilmi. “Buku Panduan Lengkap Agama Islam.” Penerbit Agromedia Pustaka, 2010, hal. vi
  5. Mahsun Fuad. “Hukum Islam Indonesia: dari nalar partisipatoris hingga emansipatoris.” PT LKiS Pelangi Aksara, 2005, hal. 294
  6. Klasifikasi fiqh klasik biasanya meliputi bidang ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayah atau qada’
  7. Mahsun Fuad. “Hukum Islam Indonesia: dari nalar partisipatoris hingga emansipatoris.” PT LKiS Pelangi Aksara, 2005, hal. 108-109.
  8. Tahu di nan empat mazhab dalam agama Islam “http://www.nanampek.nagari.or.id/b29.html.”
  9. R. A. Gunadi & M. Shoelhi. “Dari PENAKLUK JERUSALEM Hingga ANGKA NOL.” Republika, 2002, hal. 35
  10. Rs. Abdul Aziz. “Konsepsi Ahlussunnah Waljama’ah dalam bidang aqidah dan syari’ah.” Bahagia, 1990, hal. 62
  11. Salman Iskandar. “99 Tokoh Muslim Dunia for Kids.” DAR! Mizan, 2007
  12. Pustaka OASIS. “Al-Mawsu’ah Lil-Atfal Al-Muslimin (Ensiklopedia untuk anak-anak Muslim)”, Grasindo, 2010, hal. 25
  13. DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam  Al-Indunisi. “Ensikloedia Imam Sfafi’i” Jakarta : Penerbit Hikmah (PT Mizan Republika), 2008, hal.169

____________________________________________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Ali Munhanif. “Mutiara terpendam: perempuan dalam literatur Islam klasik.” Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal xi

DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam  Al-Indunisi. “Ensikloedia Imam Sfafi’i” Jakarta : Penerbit Hikmah (PT Mizan Republika), 2008, hal.169

Mahsun Fuad. “Hukum Islam Indonesia: dari nalar partisipatoris hingga emansipatoris.” PT LKiS Pelangi Aksara, 2005, hal. 108-109.

Prof.dr.phil.H.M Nur Kholis Setiawan & Djaka Soetapa. “Meniti Kalam Kerukunan.” BPK Gunung Mulia, 2010, hal 222

Pustaka OASIS. Al-Mawsu’ah Lil-Atfal Al-Muslimin (Ensiklopedia untuk anak-anak Muslim), Grasindo, 2010, hal. 25

R. A. Gunadi & M. Shoelhi. “Dari PENAKLUK JERUSALEM Hingga ANGKA NOL.” Republika, 2002, hal. 35

Rs. Abdul Aziz. “Konsepsi Ahlussunnah Waljama’ah dalam bidang aqidah dan syari’ah.” Bahagia, 1990, hal. 62

Salman Iskandar. “99 Tokoh Muslim Dunia for Kids.” DAR! Mizan, 2007

Tim Darul Ilmi. “Buku Panduan Lengkap Agama Islam.” Penerbit Agromedia Pustaka, 2010, hal. vi

One thought on “Pendekatan Memahami Fiqih

    breast actives said:
    3 Mei 2013 pukul 07.43

    breast actives…

    Greetings from Los angeles! I’m bored to tears at work so I decided to check out your blog on my iphone during lunch break. I really like the info you provide here and can’t wait to take a look when I get home. I’m surprised at how fast your blog lo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s